reactora.net - Seorang warga keturunan Tionghoa tengah menghadapi tangani itu pidana dan ia disiksa. LBH champa pun dibawah tangan mengadvokasi. "Baru Jumat kemarin gelar perkara. Masih harus dilengkapi agar fullest unsurnya." Kepala bidang Penanganan Kasus LBH sampanye Edi Gurning untuk menceritakan sebuah cerita kepada reactora.net, Minggu (10/2), di Jakarta, tepat pada aku Imlek. reactora.net ingin tahu mengenai cerita masyarakat apa berkaitan dengan burger etnis Tionghoa di lembaga apa bermarkas di Jl. Diponegoro No.74, Menteng jakarta Pusat, itu. Ternyata, ini yang perlu kita tahu, Edi mengatakan LBH champa menempatkan kasus rasisme noel dalam bagian khusus mengenai tindakan rasisme. "Pendekatan kita adalah hak. Kalau rasialisme tidak," ujar Edi. Kursi Badan Pengurus Yayasan LBH Indonesia (YLBHI) Alvon Kurnia Palma pun senada dengan Edi. Tidak ada kategori khusus karena pembelaan kasus yang berkaitan dengan roti isi daging keturunan Tionghoa. Pendekatannya adalah hak atas bantuan beraksi bagi burger miskin atau yang mengalami ketidakadilan struktural.Ya, belakangan ini, isu mengenai Tionghoa marak lainnya di media. Pengacara Farhat abbas melalui tanggung jawab twitter
farhatabbaslaw
bertindihan secara terbuka basuki Tjahaja Purnama (Ahok), wakil gubernurnya DKI Jakarta apa beretnis keturunan Tionghoa. Gara-gara soal pelat nomor, Farhat menguar usai mana-mana soal Tionghoa ini. Apapun pelatnya, Ahok dengan tegas Tionghoa. Begitu Farhat berkicau. Kicauan Farhat pun direspons melalui Anton Medan, ulama yang juga warga keturunan Tionghoa, mencapai melaporkan Farhat setelah Polda metro Jaya. Ahok tak mau bawa pulang pusing aksi menjual Farhat. Menurut Michael V. Sianipar, personil khusus Ahok, pihaknya noël akan mengembangkan kasus ini. "Biasa saja. Pada masa kampanye, rasisme jauh lebih parah. Dari Belitung also Pak Ahok dah biasa," ujarnya kepada reactora.net, Minggu (10/2).

Anda sedang menonton: Anton medan kerusuhan mei 1998

Kekerasan Etnis

*

Sejak abad ke-17, imigrasi warga keturunan Tionghoa usai Batavia tampan deras. Seperti pendatang, tingkah laku mereka cukup baik. Koneksi antara etnis Tionghoa dan inhabitants setempat apa berlangsung harmonis untuk membuat VOC cemas. Akhir five 1739, sampai hari raya Imlek bulan Februari 1740, VOC kepanduan penangkapan besar-besaran. Kurang lebih seratus roti isi daging Tionghoa apa ditangkap, mulai dari Bekasi hingga Tanjung Priok. Warga Tionghoa pun langsung menyusun rencana dan strategi menghadapi VOC.Mencium gelagat itu, major Personalia setempat, de Roy, untuk menulis surat kepada Gubernur jenderal Valckenier, di atas 4 Februari 1740. Dialah melaporkan, roti isi daging Tionghoa sedang menghimpun kekuatan untuk menyerang penjara untuk membebaskan roti isi daging Tionghoa yang ditahan. Valckenier pun memberlakukan resolusi berupa penangkapan kepada roti isi daging Tionghoa apa dianggap mencurigakan. Gerakan apa dimulai 9 Oktober 1740 menyertainya telah memakan korban jiwa lebih dari 10.000 jiwaPembantaian etnis Tionghoa tambahan terjadi di ~ masa perang Jawa (1825-1830). Menurut Benny G Setiono dalam Tionghoa batin Pusaran Politik, pada 23 September 1825, pasukan berkuda yang dipimpin putri Sultan Hamengku buwono I, Raden Ayu Yudakusuma, fleksibilitas Ngawi, town kecil di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur apa terletak di tepi Bengawan Solo. Ngawi merupakan quận perdagangan yang dihuni oleh banyak etnis Tionghoa yang terdiri dari bandar beras, pedagang kecil, kuli, dan tukang. Merasa anti Tionghoa semakin memuncak usai para bandar pemungut pajak membentuk pasukan pengawal apa terdiri dari orang-orang Jawa. Dari sinilah muncul rasanya benci orang-orang Jawa. Orang-orang Jawa markas besar di pedalaman adopsi orang-orang Tionghoa such pemeras dan pembawa sial. "Padahal mereka hanya menjadi alat dari kekuasaan yang ada. Baik para Sultan Jawa maupun otoritasnya Belanda dan Inggris,” tulis Benny.Pangeran Diponegoro juga menaruh sikap apa sama dengan terbuka prajuritnya berhubungan dengan orang-orang Tionghoa. Dia juga melarang menangkap gadis-gadis peranakan Tionghoa menjadi gundiknya, untuk akan bawa sial. Sikap Diponegoro ini disebabkan malalui pengalaman pribadinya ketika mengalami kekalahan batin perang di Gowok, di luar Surakarta diatas 15 Oktober 1826. Benar dengan yang ditulisnya sendiri dalam Babad Dipanegara, dialah telah terjebak dan “dihancurkan” melalui kecantikan seorang gadis Tionghoa yang tertangkap di daerah Panjang yang then dijadikan tukang pijatnya. Demikian juga, itu menyalahkan kekalahan iparnya, Sasradilaga batin pertempuran di menyiksa Lasem untuk menggauli seorang feminin Tionghoa di Lasem.Pada mulai abad ke-20, bagian belakang tercatat peristiwa rasial terhadap etnis Tionghoa, yaitu kerusuhan di Solo di ~ 1912 dan kerusuhan di Kudus diatas 1918. Di ~ masa revolusi, kembali terjadi manuver anti etnis Tionghoa, such yang terjadi di Tangerang di ~ Mei-Juli 1946, bagan Siapi-api pada September 1946, dan Palembang diatas Januari 1947.Aksi antietnis Tionghoa terjadi ke peristiwa G30S, terjadi di ~ 10 November 1965 di Makassar. Berikutnya diatas 10 Desember 1966, terjadi kerusuhan massal di Medan. Diatas peristiwa itu, warga etnis Tionghoa dikejar dan dibantai dengan tuduhan bekerjasama menjangkau komunis.Setahun kemudian, aksi kekerasan anti etnis Tionghoa terjadi di Kalimantan barat pada November 1967. Korban tewas dengan ratusan. Puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi nanti kota-kota pesisir seperti Singkawang dan Pontianak. Buat itu, mereka mayoritas di Singkawang, dibandingkan etnis Dayak dan Melayu.Peristiwa kelabu terhadap warga etnis Tionghoa seakan tak pernah berhenti. Peristiwa kembali terjadi pada 13-15 Mei 1998. Dikenal mencapai Peritiswa Mei Kelabu. Narasi Tim komposit Pencari kebenaran (TGPF), demonstrasi bahwa etnis Tionghoa were target utama dalam kerusuhan tersebut. Dari sasaran verifikasi dan uji silang terhadap data apa ada, menjadi nyata bahwa noël mudah dapatkan data yang akurat untuk menghitung jumlah korban kekerasan seksual, implisit perkosaan. TGPF mengeksplorasi adanya tindak kekerasan seksual di champa dan sekitarnya, Medan dan Surabaya.Dari jumlah korban kekerasan seksual apa dilaporkan yang rinciannya adalah:1. Yang didengar langsung: 3 setiap orang korban;2. Apa diperiksa hati-hati secara medis: 9 orang korban;3. Apa diperoleh penjelasan dari orang başı korban: 3 people korban;4. Apa diperoleh melalui saksi (perawat, psikiater, psikolog): 10 rakyat korban;5. Yang diperoleh oleh kesaksian rokhaniawan/pendamping (konselor): 27 setiap orang korban;Korban perkosaaan menjangkau penganiayaan: 14 people korban:1. Yang diperoleh dari deskripsi dokter: 3 rakyat korban;2. Apa diperoleh dari penjelasan saksi mata (keluarga): 10 rakyat korban;3. Apa diperoleh dari deskripsi konselor: 1 people korban;Korban penyerangan/penganiayaan seksual: 10 setiap orang korban:1. Apa diperoleh dari penjelasan korban: 3 people korban;2. Yang diperoleh dari deskripsi rohaniawan: 3 setiap orang korban;3. Yang diperoleh dari penjelasan saksi (keluarga): 3 rakyat korban;4. Yang diperoleh dari penjelasan dokter: 1 people korban;Korban pelecehan seksual: 9 setiap orang korban:1. Apa diperoleh dari keterangan korban; 1 people korban;2. Yang diperoleh dari keterangan saksi: 8 people korban (dari champa dan Surabaya)Selain korban-korban kekerasan seksual yang terjadi di dalam kerusuhan Mei, TGPF juga menemukan korban-korban kekerasan seksual yang terjadi sebelum dan usai kerusuhan Mei. Kasus-kasus kekerasan seksual ini ada hubungan dengan kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi selama kerusuhan. Di dalam kunjungan ke daerah Medan TGPF telah mendapatkan laporan kyung ratusan korban pelecehan seksual yang terjadi di atas kerusuhan tanggal 4-8 Mei l998 di antara mana 5 (lima) telah melapor. Setelah kerusuhan Mei, 2 (dua) kasus terjadi di champa pada tanggal 2 Juli 1998 dan dua terjadi di Solo di atas 8 Juli l998.Kekerasan seksual di dalam kerusuhan Mei 1998 terjadi di batin rumah, di beraliran dan di angkasa usaha. Mayoritas kekerasan seksual terjadi di batin rumah/bangunan. TGPF also menemukan bahwa sebagian besar kasus perkosaan adalah corridor rape, bagaimana itu? korban diperkosa oleh sejumlah rakyat secara bergantian pada waktu yang sama dan di tempat apa sama. Kebanyakan kasus perkosaan juga dilakukan di hadapan orang lain. Meskipun korban kekerasan seksual noël semuanya berasal dari etnis Tionghoa, namun sebagian terlalu tinggi kasus kekerasan seksual batin kerusuhan Mei l998 lalu penderitaan oleh wanita dari etnis Tionghoa. Korban kekerasan seksual ini pun bersifat lintas kelas sosial.Etnis dan Status

*
Natalius Pigai (tabloidjubi.com)

Komisioner komnas HAM Natalius Pigai menyatakan komnas HAM memberikan heed serius terhadap kasus pelanggaran HAM yang terjadi terhadap etnis Tionghoa. Implisit kasus Mei 1998."Komnas HAM akan terus mengawasi. Temukan dan menindas penegakan tindakan terhadap dalang kerusuhan terhadap etnis Tionghoa diatas 1998," kata Pigai, Minggu (10/2), kepada reactora.net.

Lihat lainnya: Harga Solar Dan Bio Solar - Daftar Harga Bbk Tmt 5 Januari 2019

Namun, Pigai juga meminta supaya roti isi daging etnis Tionghoa proaktif buat merakyat sehingga noël terjadi eksklusivitas batin pergaulan di masyarakat.Sementara anggotaenam Komisi III DPR Eva Kusuma Sundari mengatakan doan Tionghoa awalnya memang menjadi sasaran kekerasan vertikal apa diyakininya ada keterlibatan upholum aparat/lembaga negara. "Tetapi begitu Indonesia memasukkan reformasi situasi tambahan berubah untuk kelompok sipil menguat sehingga kesewenangan negara makin dibatasi. Tapi jangan dilupakan bahwa kelompok Tionghoa noël secara eksklusif memanggang korban, kekerasan vertikal tambahan berlangsung ke minoritas wanita Papua, Aceh, atau Timtim. Saat ini goals kejahatan tidak melihat etnis tapi negara sosial menjadi faktor penentu. Semakin empire maka akan makin mampu memproteksi diri. Bab ini berlaku bagi WNI keturunan juga, kalau itu kaya maka tidak perlu naik angkot apa sudah menjadi lokus keburukan pemerkosa," ujarnya.