Ada yang lebih memfokuskan kegiatannya di ~ pemberdayaan ekonomi masyarakat, ada pula apa memilih world bahasa, sejarah, budaya Kaharingan, teknologi atau musik such bidang tekunan. Mulailah nampak adanya spesialisasi masalah yang ditekuni dan dicuci secara sungguh-sungguh. Mengharapkan saja bahwa spesialisasi noel membuat orang menutup mata dan telinga terhadap bidang-bidang lain, lalu merasa field tekunannya sendiri yang paling “wah” sehingga kurang dipahami arti penting pendekatan multi disipliner dan makna saling hubungan dalam suatu development dialektis hal-ikhwal.

Anda sedang menonton: Bahasa kalimantan barat dan artinya

Di samping gejala start terjadinya spesialisasi daerah tekunan, terdapat noël sedikit pula bidang-bidang apa belum volume baik. Daerah sastra, artian lukis, teater, misalnya masih belum memperlihatkan perkembangan berarti dibandingkan dengan 7 five silam saat saya masih bekerja di provinsi ini. Dunia entertainment masih jauhnya dari perhatian, padahal sosial berbagai kalangan terutang kekurangan dan memerlukan hiburan. Sejak 1957 saat berdirinya Palangka Raya sampai aku ini, tak ada sebuah gedung bioskop pun terdapat di ibukota propinsi ke-17 ini. Terdengar berita bahwa batin waktu dekat sinema 21 become diadakan di Palma (Palangka Raya Mall).

Apakah Palangka Raya dirampas gedung-gedung pertunjukan? sangat jika demikian, sementara kawanan gedung-gedung apa mubazir tak dimanfaatkan tapi gedung-gedung baru terus dibangun, could atas namu “proyek”. Kehausan ini adalah tempat bersantai begini kemudian menjadi sebuah arus human menuju restoran-restoran tenda dan Monumen Nilai-Nilai Juang 1945 – dengan nilai-nilai dan berpawai sejarah yang membangkitkan polemiknya – berbohong di depan Kantor Gubernur apa megah indah.

Narkoba dan miras, kekerasan dan agresivitas seksual mengisinya kolom-kolom menginformasikan hampir saban hari. Secara baris besar, bisa ia mengatakan adalah sebuah kota kering tidak punya kegiatan kesenian yang berarti. “Ini disebabkan buat kota sedang berkembang,” ujar seorang pejabat dari Kejaksaan Tinggi yang kebetulan menginap di satu wisma. O ya, kota memang sentral berkembang tapi noël seimbang dan bergaya popular music konsumtif. Demikianlah development baru di Kalimantan Tengah yang saya lihat saat pulang kampung kali ini.

Di sentral ketimpangan-ketimpangan di atas, bab menarik adalah kegiatan-kegiatan fokus apa dilakukan melalui dua budayawan bocah Dayak Anthony Nyahu dan Marko Mahin. Yang last adalah seorang antropolog lulus S2 universitas di Leiden, sedang menulis dalil S3 pada Universitas Indonesia, Jakarta. Sedangkan Anthony Nyahu seorang pegawai diatas Pusat Bahasa yang sesuai dengan bidang kerjanya kerumunan menekuni permasalahan dan pengembangan bahasa Dayak Ngaju.

Marko dan Mahin sedang berencana untuk menerbitkan Buletin Tamuei yang penuh berbahasa Dayak Ngaju. Batin kerangka pengembangan bahasa Dayak Ngaju ini, Anthony Nyahu aktif does penelitian, penulisan, mengumpulkan khazanah bahasa Dayak Ngaju serta menganalisanya. Aktivitas Nyahu di dalam bidang bahasa, nampaknya agak variasi dengan pekerjaan besar dan berbiaya Institut Dayakologi Pontianak apa membuat atlas bahasa di Kalimantan Barat. Selain membuat peta linguistik di Kalteng, Nyahu juga menganalisa, perdebatan ejaan dan tata bahasa. Deviasi satu kegiatan Anthony Nyahu adalah mengumpulkan back pepatah-petitih dan ungkapan bahasa Dayak Ngaju yang selama ini kurang diindahkan terutama melalui generasi muda, awal dari angkatan Anthony dan angkatan apa di bawahnya. Jangankan menaruh perhatian, dalam berkomunikasi sesama diri mereka, angkatan anak laki-laki Dayak Kalteng nampak lebih crowd menggunakan bahasa Banjar daripada bahasa Dayak Ngaju, sekalipun mereka adalah rakyat Dayak Ngaju.

Penggunaan bahasa Banjar seperti alat komunikasi ~ oleh tak sedikit familial digunakan buat berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Apakah chapter begini merupakan petunjuk become adanya masalah batin soal identitas dan rumit psikologis di kalangan masyarakat Dayak Ngaju? Apakah secara budaya, setiap orang Dayak Ngaju, mengalami sejenis penyakit? kalaupun mereka berbahasa Banjar, saya tambahan tidak yakin bahwa mereka yang memakainya sebagai bahasa komunikasi hingga di lingkungan familic mereka, memahami menodai filosofis dan nilai-nilai yang terungkap di dalam pepatah-petitih serta ungkapan bahasa Banjar.

Jika bahasa etniknya sendiri dilecehkan secara noël sadar, sedangkan bahasa Banjar tangan kedua sebatas bahasa komunikasi, saya khawatir, akhirnya manusia Dayak Kalteng sekarang, dulu sejenis manusia hampa biaya budaya. Padahal jika memperhatikan sejumlah pepatah-petitih dan ungkapan bahasa Dayak Ngaju (Lihat: Lampiran) yang telah dikumpulkan oleh Anthony Nyahu, pepatah-petitih dan ungkapan tersebut merupakan kesimpulan para tetua sekitar pengalaman hidup mereka. Kecuali itu, pepatah-petitih dan ungkapan-ungkapan reflects evaluasi mereka terhadap perangai atau watak manusia Dayak.

Dari pepatah-petitih dan ungkapan Dayak Ngaju yant dikumpulkan oleh Nyahu, tercermin juga kedekatan umat ​​manusia Dayak mencapai lingkungan, koknya “basis” tercermin pada “bangunan atas” apa bernama pepatah-petitih dan ungkapan-ungkapan.

Kesimpulan tetua tentang pengalaman lives mereka anck tantangan zaman mereka misalnya implisit dari pepatah-petitih dan ungkapan berikut:

Buju-bujur ikoh aso (Lurus selurus ekor anjing)

Rimae (artinya): Tampayahe bahalap padahal pananjaru (Nampaknya baik, tapi faktanya pembohong)

Bisa bulue itu belange (Basah kulit noël belangnya)

Rimae (artinya): Taloh gawi je dialah mandinun sasaran (Pekerjaan yang noel mendatangkan hasil)

Baka-bakas bua rangas (tua-tua buah rangas)

Rimae (artinya): Oloh jadi bakas baya gawie kilau anak tabela

(Walaupun cantik tua, tapi kerjanya such anak-anak).

Karas nyaho jaton ujan (Deras petir tanpa hujan)

Rimae (artinya): space pander jatun katotoe (Besar mulut tanpa bukti).

Kalah batang awi sampange (Kalah sungai karena anak sungainya)

Rimae (artinya): Nihau tintu je solake tagal panggawi rahian

(Hilang direction semula untuk ulah apa kemudian).

Dia tau pisang handue mamua (Pisang tak bisa berbuah dua kali).

Rimae (artinya): Kabakas tuntang kagancang dialah tau haluli ini adalah tampara

(Kedewasaan dan kekuatan tak bisa bagian belakang ke awal).

Tingang manganderang right into bitie (Enggang menggema di di dalam tubuhnya saja)

Rimae (artinya):Tamam pander baya jaton gawie (Hebat omongnya saja, tanpa kerja).

Ampit manak tingang (Pipit beranak enggang).

Rimae (artinya): Oloh je tau menggatang tarung oloh bakase.

(Seseorang apa bisa mengangkat martabat orangtua).

Berbagai perangai umat ​​manusia di batin pepatah-petitih dan ungkapan also tercermin, misalnya:

Aku raja aku tamanggung aku damang (Saya raja, saya temenggung, saya damang).

Rimae (artinya): itu maku marandah arep awi keme arepe oloh hai.

(Tidak mau rendah hati karena merasa dirinya people besar)

Duan kulate ilihi batange (Ambil shiitake tinggalkan pohon)

Rimae (artinya): Baya handak kamangate, pehe itu hakun

(Mau enaknya saja, sakitnya tidak mau).

Lepah anise kuas inganan (Habis manis sepah dibuang).

Rimae (artinya): Amon tege gunae inyayang, amon dia palus inganan.

(Saat berguna disayangi, saat tak bermanfaat dibuang).

Pepatah-petitih yang lahir seperti kesimpulan pengalaman angkatan pendahulu malalui Anthony Nyahu disebut sebagai “pandehen utus” (pengokoh ketahanan kesukuan dan bangsa)“ melalui teguran ingatan dan kesadaran pada setiap saat dalam mengarungi kehidupan” (gunae dimodernkan indu pampingat tanbang parendeng itah hong pambelom sining katika). Dari pepatah-petitih dan ungkapan dalam sebuah bahasa, barangkali bisa terbaca juga keadaan masyarakat diatas suatu kurun waktu, mimpi dan nilai-nilai dominan serta romantisme zaman tertentu.

Berangkat dari agaknya begini, saya jadi bertanya-tanya sekitar keadaan atau latar-belakang lahirnya ungkapan mengingatkan berikut:

Tempun kajang mungkin puat, tempun uyah batawah belai, tempun petak manana sare”, “Punya atap basah muatan, punya tanah berladang di tepi, punya garam hambar di rasa”.

Kata-kata peringatan ini terpampang dengan huruf-huruf besar di penyimpangan sebuah rock Bukit batu dengan sign tangan Tjilik Riwut, bisa clearly terbaca dari kejauhan. bertanya saya: Apakah keadaan terpinggir begini telah berlangsung lama di tanah Dayak? berapa lama, since kapan? tentu ungkapan peringatan begini bukanlah ungkapan baru, tapi sudah berlangsung lama. Kenapa terjadi keadaan terpinggir untuk kurun waktu yang lama, padahal katanya manusia Dayak menemani itu adalah “Utus Panarung” (turunan manusia pelaga). Apakah ada perubahan pola pikir dan mentalitas di ~ Utus Panarung sejak pertemuan Tumbang Anoi 22 Mei 1894 1), temu yang mengawali kekalahan politika komunitas Dayak? Faktor-faktor what yang making keterpurukan komunitas Dayak berlangsung demikian lama dan sampai menampakkan masih belum tambahan teratasi sekian pun orang pertama propinsi adalah seorang Dayak juga, baik ia bernama Teras Narang, Gara, Reynault Sylvanus ataupun Asmawi A Gani? what yang salah?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan begini, asalkan kita niscaya menelusur sejarah Dayak dari masa setelah masa, menyimak treatise pemberdayaan dan pembangunan yang dipilih dan diterapkan dari saat usai saat melalui penyelenggara memaksa politik propinsi, mencermati kesungguhan keberpihakan apa mengatasnamai pemberdayaan dan pembangunan daerah. Mencapai demikian maka belajar bahasa, belajar pepatah-petitih dan ungkapan-ungkapan, barangkali involves makna dan meniscayakan kita tambahan belajar historia perkembangan masyarakat, historia pemikiran dan nilai-nilai dominan diatas suatu kurun waktu.

Barangkali dalam kaitannya dengan titik-titik demikian, usaha awal Anthony Nyahu menghimpun pepatah-petitih dan ungkapan bahasa Dayak Ngaju Dayak mempunyai arti yang melampaui sekedar mungkin dijadikan isi muatan dium dalam tangani itu ajar-mengajar di Kalteng (baca: daerah). Titik-titik demikian tentu saja mengungkapkan diri di dalam berbagai sektor, termasuk artian rupa, puisi, dan arsitektur, dan sebagainya. Penanganan khusus arsitektur dulu fokus catatan Andriani S. Kusni batin rangka kajiannya terhadap arsitektur tradisional nusantara. Spesialisasi kajian menandai evolusi baru batin usaha melangkah di jalan pemberdayaan dan pembangunan yang oleh Prof. Dr. Sajogyo ditelepon “Jalan Kalimantan” (Kalimantan mungkin digantikan dengan nama pulau-pulau lain).****

Palangka Raya, Mei 2009

—————————–

JJ. Kusni

Catatan:

1). Lihat: JJ. Kusni, “Masalah Etnis dan Pembangunan. Kasus Dayak Kalimantan Tengah”, PT Paragon, Jakarta, Agustus 1994, hlm-hlm. 30-38. Kata Pengantar DR. Djohan Effendi.

LAMPIRAN:

PADEHEN UTUS

JETOH GUNAE menjadi INDU PAMPINGAT tunang PARENDENG ITAH

HONG PAMBELOM SINING KATIKA

Dikumpulkan dan Disusun Oleh

ANTHONY NYAHU

Kahem badue mungkin ije

Rimae: Badue manggawi, kabuat nyarena

Tempun kajang sanggup puat = Tempun uyah batawah belai = Tempun petak manana sare.

Rimae: Tempun ramo, oloh mahapae,

Munduk lelep mendeng tambukep

Rimae: Saraba sala

Mahimes ujau ije kapulau

Rimae: Oloh hatue je manduan uras oloh bawi ije kalambutan ini adalah sawae

Kongkong anjuran tewang teah belai, antang saran tee bisa belai

Rimae: Arep je tempon petak danum, oloh beken je manduae

Bapinding rinjing baatei butong

Rimae: Oloh je dialah maku mahining peteh oloh bakas

Buju-bujur ikoh aso

Rimae: Tampayahe bahalap padahal pananjaru

Bisa bulue dia belange

Rimae: Taloh gawi je itu mandinun hasil

Baka-bakas bua rangas

Rimae: Oloh jadi bakas baya gawie kilau anak tabela

Karas nyaho jaton ujan

Rimae: are pander jatun katotoe

Kalah bar awi sampange

Rimae: Nihau tintu je solake tagal panggawi rahian

Dia tau pisang handue mamua

Rimae: Kabakas tuntang kagancang dialah tau haluli akan tampara

Tingang manganderang into bitie

Rimae: Tamam pander baya jaton gawie

Ampit manak tingang

Rimae: Oloh je tau menggatang tarung oloh bakase.

Ampit biti, tingang kanderange

Rimae: Kutak pander tunang taloh gawi itu satimbang.

Jaton tau kambing maobah belange

Rimae: Jaton ati oloh je tau maobah tabiate

Nyamae ewau madu, parae mimbit puntut

Rimae: Oloh ije kotak pander bahalap tapi papa ateie

Handak neweng jaton baliung, handak nyakei tangkalau gantung

Rimae: Gawi je ngahus, space katapase

Neweng hutan hapa pisau, mandirik hapa baliyong

Rimae: Mahapa pakakas itu tumon ekae

‘Menggunakan segala alat noël pada tempatnya’

Mikeh tapuhus kinyak, tepa buah duhi

Rimae: Mikeh banat kapehe je kurik, buah kapehe je hai

Jaton utuse kelep tau mandai

Rimae: Manggawi je itu mungkin

Inti-intih bua rihat halawu bua ruku

Rimae: Mintih je bahalap halawu mandino je papa

Jaton pusa nalua laok je langa-langai

Rimae: Jaton aton oloh je mananrtalua ytaloh je mangat

Jaton danum tau maleket hunjon dawen kujang

Rimae: dialah tau mahapan ramo atawa rajaki bua-buah

Mamparingkung bawoi lewu, manyeput bawoi himba

Rimae: Tau/bahalap mencapai oloh beken

Mamuno lauk talimbas kambues

Rimae: Manampa kare gawi barangkah banas wayahe

Laya-laya katam tatame buwu

Rimae: Haranan laya, tapajok tame tingkes

Mambelom tingang manutok mate

Rimae: Mambelom oloh, memanggang sampai katika, in other words tulas menjangkau oloh je mambelom ie’

Makang hejan sampah balawo = Manutup rumbak jadi tambohos

Rimae: Harue batawat limbah enim mandino kapehe

Dia katawan kasak kulat

Rimae: Oloh je dialah katawan auh pander saritae kabuat

Pandang andau jari halemei

Rimae: Malalus gawi jari talimbas

Mandop bawoi paheka aso = Misi laok palepah umpan

Rimae: Manggawi kare gawi je jaton hasile

Dus dahian dus nangkarap

Rimae: Oloh je malalus taloh gawie itu imarima helo

Hong kueh batang mengetuk hete ie tege

Rimae: Oloh je baya manggau kamangat ih

Hore-horeh aso tapangkit pinding kolae

Rimae: banat horeh mampalembut kalahi/karidu

Anak kambing itu tau manjadi anak haramaung

Rimae: Anak oloh humong dialah tau manjadi anak oloh pintar

Ite anak nanture mananto

Rimae: Genep gawi kahandake irima bua-buah.

Inti-intih bua rihat

Rimae: Handak mendinum je bahalap itu katawa dinun je papa

Antang tarawang manari, manok hadari manyahukan

Rimae: Amon dumah pangawas banas hunjun, uras pagawai bagawi intu eka ewen.

Panginan antang dia become kinan munyin

Rimae: Rajaki itah dia akan induan oloh beken.

Hong kueh tingen lepah hete apoi belep

Rimae: into kueh itah matei into hete ingubur.

Mausik apoi balupak

Rimae: Genep gawi aton akibate

Kahandak atei handak dimpah, jukung tege besei jatun

Rimae: Handak bagawi tapi pakakas jaton

Atei bagatel mate inggayau

Rimae: Oloh je itu ulih manggawi taloh gawie je puna iharape.

Manakau atei oloh.

Lihat lainnya: Rekomendasi Sabun Pencuci Muka Untuk Kulit Berminyak Dan Berpori

Rimae: mangat oloh manyinta dengae benye-benyem tanbang halus.

Babilem inyewut baputi, baputi inyewut babilem

Rimae: Bahalap inyewut papa, papa inyewut bahalap; dia mander ije katutu/pananjaru