2020, 2021, comedy, crime, dark, drama, friendship, funny, life, love, mature, review, spoiler, thought, thriller


“Ibarat kucing disodorin ikan asin..”

Guru religius di sekolahku dulu pernah ngajarin; cowok itu ibarat duren, sedangkan cewek itu pepaya. Kalo ada kecelakaan atau apapun yang menyebabkan dua buah akun itu beradu, maka apa rusak adalah pepaya. Ini nunjukin bahwa gimana pun juga, cewek adalah pihak yang akan paling dirugikan. Cewek yang harus mengendure setiap orang perubahan menyakitkan, baik itu di atas tubuh maupun mentalnya. Sehingga, kata Guru Agamaku itu, kita setiap orang harus saling mengolah – diri maupun sesama. Jadi pepaya harus bisa menjaga ourselves dari duren, DAN durenpun kudu mawas diri karena enggak gasrak gusruk menubruk pepaya-pepaya.

Anda sedang menonton: Film tentang wanita mengejar pria

Aku clearly lebih shang analogi tersebut daripada analogi satu lagi yang mengibaratkan cowok dan cewek mencapai kucing dan ikan asin. Untuk analogi tersebut memberi terkesan memaklumkan postur kucing yang punya nafsu kemiripannya ikan asin. Kalo ada ikan asin yang termakan, berarti bukan salah kucingnya. Namun sialnya, sama ini apa malah berkembang di masyarakat. Di luar sana, karena pada gak tau ikan asin, mereka simply menyebutnya ‘boys will be boys’. Jadilah kebiasaan dituduh korban such sebuah kultur. Korban kekerasan seksual ‘males’ ngaku karena nanti mereka sendiri apa bakal balik ditanya duluan. Dicurigai mancing duluan, atau malah dicurigai berbohong. Udah jatuh, tertimpa tangga pula! Sedangkan bagi para cowok apa memang terbukti bersalah, ‘paling cuma’ dipenjarakan. Buat membuktikannya bersalah itu yang luar biasa tak adil. Kultur gak sehat inilah yang ditilik – mencapai komedi apa cukup gelap – oleh Emerald Fennell batin debut film-panjangnya, promising Young Woman.

Dalam movie ini kita akan mengikuti Cassandra, atau disapa Cassie (she could very fine be carey Mulligan’s finest performance to date) yang mencapai sengaja were ‘ikan asin’, padahal dialah justru adalah seekor piranha! Ya, Cassie setiap malam keluar untuk berburu ‘kucing-kucing’. Modus operandi Cassie adalah dia ini adalah berpura-pura mabok di bar, sampai seorang laki-laki yang mengaku cowok baek-baek mendatangi dan membawanya pulang. Di ‘tempat aman’ itulah Cassie ini adalah mengejutkan si cowok. Supaya mereka segenap kapok. Cassie berwewenang menghukum mereka mencapai caranya sendiri, untuk sistem beraksi dan sosial membantah memberi ganjaran kepada cowok. Cassie sudah melakukan perbuatan demikian lama sekali, kemudian bentuk perlawanannya terhadap trauma overhead kehilangan sahabat ceweknya. Dan semakin ke sini, ‘perburuan’ apa dilakukan Cassie semakin kelam. Sampai finite dia pertemuan dengan cowok yang adalah teman lamanya di sekolah. Cassie sudah seperti menemukan jalan kembali untuk melanjutkan kehidupan dengan normal, tapi pertemuan tersebut tambahan membuka selembar rahasia mengaburkan lagi. Yang membuat Cassie percaya tindakan yang benar-benar ekstrim harus segera ia lakukan.


" data-medium-file="https://reactora.net.files.wordpress.com/2021/01/promising-young-woman-trailer.jpg?w=300" data-large-file="https://reactora.net.files.wordpress.com/2021/01/promising-young-woman-trailer.jpg?w=529" class="size-large wp-image-16586" src="https://reactora.net.files.wordpress.com/2021/01/promising-young-woman-trailer.jpg?w=529&h=298" alt="" width="529" height="298" srcset="https://reactora.net.files.wordpress.com/2021/01/promising-young-woman-trailer.jpg?w=529&h=298 529w, https://reactora.net.files.wordpress.com/2021/01/promising-young-woman-trailer.jpg?w=1058&h=596 1058w, https://reactora.net.files.wordpress.com/2021/01/promising-young-woman-trailer.jpg?w=150&h=85 150w, https://reactora.net.files.wordpress.com/2021/01/promising-young-woman-trailer.jpg?w=300&h=169 300w, https://reactora.net.files.wordpress.com/2021/01/promising-young-woman-trailer.jpg?w=768&h=433 768w, https://reactora.net.files.wordpress.com/2021/01/promising-young-woman-trailer.jpg?w=1024&h=577 1024w" sizes="(max-width: 529px) 100vw, 529px" />Kucing disodorin ikan… piranha!!


Cassie di film ini sungguh karakter unik, apa punya tingkat kesulitan tinggi batin eksplorasi emosinya. Karena, kalo ada satu kata yang menggambarkan emosi figure ini, maka akun itu adalah ironi. Di ketentuan kita melihat dengannya, Cassie telah berada di atas titik yang benar-benar udah kehilangan simpati ama bukan just pria-pria, tapi juga pada perempuan. Yang betah kehidupan langgeng di batin sistem yang menyalahkan korban. Cassie untuk kita lihat sebagai pribadi yang cuek dan sinis. Itu gak pikiran tanggal ultahnya sendiri, dia gak niat nyari pacar, dan gak sedetikpun dialah menyesali pegang dari kuliah kedokteran dan malah memilih pergerakan di kafe. Namun di terbalik itu, Cassie punya luka besar apa menganga. ‘Kecuekan’nya tadi bersumber dari wound tersebut. Cassie begitu tertohok melalui ketidakadilan yang terjadi diatas sahabatnya, yang memanggang korban kekerasan seksual. Itupenggunaan gak kenal perjuangan Cassie adjuvan keadilan bagi sahabatnya tersebut. Tapi dari sikapnya apa sekarang, kita kenal Cassie cantik menghadapi ribuan ‘boys will certainly be boys’. Dialah telah oleh begitu banyak derita dan trauma hanya untuk menuntut cowok pelaku ditindak adil. Ini adalah beban yang sangat berat ditanggung oleh seseorang. Dan beban tersebut dapat untuk kita rasakan merayap, menguar, di balik sikap cuek dan dark Cassie apa sekarang. Emosi dan play peran apa sungguh tidak gampang. And membawa Mulligan nails this for this reason perfectly. Di memanggang aktor sembarangan, peran Cassie ini gak akan kena.

Selain karakternya, rentang di film ini also kita jumpai diatas visual dan tone secara keseluruhan. Film ditampilkan di dalam warna-warna cerah. Kelihatannya persis kayak movie komedi romantis. Isu-isu yang menantang jadi dilontarkan mencapai lantang malalui Cassie, sehingga kini bukan hanya warna saja yang terasa mencuat keluar dari layar. Movie ini begitu mengonfrontasi di menggoreng keceriaan dan kemeriahan visualnya. Film also enggak ragu karena membentrokkan tone. Kita ini adalah dibuat ikut menari bersama para karakter — come a Paris Hilton song! Bayangkan!! Dan momen berikutnya kita akan dibuat merasakan karakter menghadapi suatu kenyataan apa mengerikan. Arahan film ini berani such demikian, seberani Cassie itu sendiri. Film ini memang pantas menuai crowd apresiasi dari visinya ini.

Namun, dari segi materi atau penulisan secara keseluruhan, I gotta be honest; movie ini masih terasa sepihak. Penggaliannya masih agenda-ish. Putra sulungnya endingnya sendiri become membagi-dua penonton. Dan aku memasukkan golongan yang menganggap ending film ini mendesak buruk. Kalo movie ini aku tonton tepat waktu di 2020, maka aku pastilah menjadi bikin berpesta ‘Worst ending of the Year’, dan movie ini akan enim juaranya.

Analogi kucing dan ikan asin tadi; justru movie ini sendiri yang dengan semangatnya melabelkan laki-laki sama menjangkau kucing. Karakter-karakter cowok di cerita ini semuanya digambarkan punya nafsu bejat. Modus operandi movie adalah pameran mereka kelihatan seperti orang baik – dan si malu sendiripun berulang kali menderita mereka adalah orang baik – dan di ~ akhirnya, ke gak kuat memercayai melihat kesempatan jernih Cassie, mereka ini adalah ‘memperlihatkan’ perangai asli mereka. Cowok dalam film ini menjadi disuruh untuk mengakui mereka enggak sebaik yang mereka bilang nanti orang-orang. Bahwa sebenarnya mereka semua memiliki memang kucing. Yang punya niat jahat, tapi setelah itu akan terlalu pengecut untuk mengakui telah penyimpangan atau mengaburkan mata. Terlalu pengecut dan berlindung di jepit ‘kucing disodorin ikan asin, miliki makan-lah’. Kelewat love attention Cassie juga ditulis mencapai karakter kemudian begini. Si Cassie individu was having a difficult time untuk percaya cowok apa ia taksir tersebut sudah berubah dari trấn yang paling dalam. It’s in reality really hard untuk melihat what sebenarnya yang dikejar film ini. Apakah ingin demonstrasi kepada kita Cassie itu salah; karena selama ini Cassie dikumandangkan hidupnya dan tenggelam dalam dendam sehingga gak mungkin melihat orang lain di dalam cahaya yang baik. Atau simply untuk memang film berwewenang nunjukin segenap cowok itu, ya, kucing garong.


" data-medium-file="https://reactora.net.files.wordpress.com/2021/01/promisingasadw.png?w=300" data-large-file="https://reactora.net.files.wordpress.com/2021/01/promisingasadw.png?w=512" class="size-full wp-image-16585" src="https://reactora.net.files.wordpress.com/2021/01/promisingasadw.png?w=529" alt="" srcset="https://reactora.net.files.wordpress.com/2021/01/promisingasadw.png 512w, https://reactora.net.files.wordpress.com/2021/01/promisingasadw.png?w=150 150w, https://reactora.net.files.wordpress.com/2021/01/promisingasadw.png?w=300 300w" sizes="(max-width: 512px) 100vw, 512px" />Kalo ini film Indonesia, pasti yang diorkestrain bukan lagu Toxic, melainkan: “Kumenangiiiiissss…”


Yea, aku kenal realitanya memang di atas sebagian geram kasus, cowoklah yang brengsek. Yang terlalu lemah buat menahan diri dan bertanggungjawab, dan malah menggoreng nyalahin. Tapi dari standpoint materi ataukah penulisan, movie ini tuh bener-bener butuh untuk membuat setiap orang cowok begitu supaya arc Cassie bisa ~ bekerja. Sehingga movie ini enim banal. Ia ditinggalkan kepentingan karena menggali dari dua sisi, atau buat memanusiakan senin sisi.

Kita bisa ~ mengerti dari endingnya. Dirancang karena nunjukin bahwa cowok gak sanggup dihukum buat perbuatan yang ia perbuat masa lalunya itu; cowok-cowok lolos dari sistem yang broken. Jadi, tindakan apa diberikan kepada karakter Cassie adalah Cassie harus produksi si pelakunya bersalah overhead perbuatan lain. Perbuatan menemani itu pun haruslah apa genuinely melekat di diri cowok. Supaya si pelaku sanggup dipastikan memvonis kali ini. Maka dari itulah, film ini membuat ilustrasi cowok tanpa ada sisi baik. Dan juga supaya kita lanskap tindakan Cassie di di atas itu sebagai pengorbanan terakhirnya. Cassie cantik membuang hidupnya selama ini tidak enim ikut itupenggunaan ‘salahkan’ hidupnya karena di di atas itu, dialah membuat hidup apa sudah ia limbah selama ini enim berguna. Dengan akhirnya berhasil menjebloskan si pelaku ke penjara.

Kucing disodorin ikan asin pasti mau. Boys will certainly be boys. Jangan sampah hidupmu buat meminta pertanggungjawaban mereka. Boys will certainly be boys. Cepat atau lambat, toh kesalahan yang sama akan berulang. Tangkap mereka saat itu. Tangkap dan pastikan mereka tak sanggup lolos lagi. Begitulah, kurang lebih yang ingin disarankan malalui film ini.

Akan tetapi, firmicutes saja, dari cara movie ini memperlihatkan adegan-adegannya, Cassie terasa seperti menjebak si cowok. Membuat si cowok kepepet. Such kesalahannya itu dicari-cari. Cassie noël diperlihatkan apakah itu peduli jikalau si pembunuh itu beneran udah insaf atau enggak. Dan yang paling menggelikan dari film ini adalah; Supaya dunia dan orang-orang yang ditinggalkan Cassie sadar become kesalahan sistem yang mereka anut, supaya mereka sedih, dan Cassie mencuat triumphantly, movie ini membuat ending apa konyol mencapai elemen ‘pesan dari kubur’! Ha! Cassie bisa menebak kejadian bakal sebagai apa, seseorang menjadi berada di mana, timing kejadian di ending menemani itu begitu benar ditebak dari jauh aku oleh Cassie. Ini over-the-top sekali. Siap jauh dari terkesan real yang menguar kokoh di balik cerita di menit-menit sebelum bagian di atas film ini.

Sesungguhnya cerita Promising Young mrs ini punya kembaran serupa-tapi-tak sama, yakni movie Three Billboards outside Ebbing, Missouri (2017) kita pasti masih ingat, untuk film menyertainya diunnggulkan karena Oscar. Film tersebut ceritanya kyung seorang ibu apa menghabiskan umurnya mengejar polisi, adjuvan kasus perkosaan yang menyebabkan kematian putrinya diusut tuntas, dan pembunuh itu dicari – dijebloskan ke penjara. Saat nge-review film itu, aku nulis kayaknya aku bakal lebih suka kalo movie tersebut memperlihatkan hasil akhir perjuangan si tengah – kalo nasib pembunuh itu dituntaskan. Namun, ke menonton movie Promising Young woman ini, baru terasa bagiku. Baru terasa betapa jauh lebih powerful cerita Three Billboards tersebut dengan produksi protagonisnya temukan kedamaian bagi ourselves sendiri. Lebih terasa genuine sehingga lebih emosional dan important.

Sebagai movie thriller, ini adalah debut yang cukup menjanjikan dari Emerald Fennel. Demo ia mampu permainan dengan ton dan karakter untuk menyampaikan sebuah gagasan dan mewujudkan penglihatan yang penting. Tapi tentu saja memuat gagasan apa penting, tak lantas membuat film otomatis bagus. Segenap itu ketergantungan kepada tulang punggung, yakni naskah. Materi movie ini masih berupa satu pandangan, sehingga terpaksa dipilih ending apa kurang wajar dan maksa secara over-the-top. Finishing film ini, jika dilihat dari genrenya, masih mungkin karena disukai sebagian penonton. Hanya, buatku, endingnya justru break this entire film apart. untuk mengurangi kepentingannya begitu drastis. Terlebih untuk memang film ini punya pembanding yang jauh lebih actual dan powerful.The palace of Wisdom provides 5 out of 10 gold stars for promise YOUNG WOMAN.

Lihat lainnya: Muhasabah Pagi: Tidak Ada Daun Yang Jatuh Tanpa Izin Allah Tak Ada Sehelai Daun


That’s every we have for now.

Supaya pria pelaku vice seksual bisa ~ jera dan benar-benar adil bagi perempuan, Indonesia neiarkhos mengumumkan soal tindakan kebiri. Bagaimana itu? pendapat kalian mengenai hukuman tersebut?