reactora.net – Sebelum mempelajari tafsir surah Al-Muddatstsir ayat 32-37, alangkah baiknya apabila berkenan dipahami ringkasan tafsir ayat sebelumnya. Supaya dapat dipahami persambungan ayat apa akan kesalahan dengan ayat-ayat sebelumnya.

Anda sedang menonton: Kehendak allah dalam al quran

Allah Swt. Telah menjelaskan bahwa orang-orang yang mendustakan Al-Quran–seperti Walid bin Mughirah–kelak layak untuk ditempatkan di neraka Saqar. Di sana, mereka ini adalah berada dibawah pengawasan ketat para algojo, yaitu malaikat Zabaniyah apa keras another kasar.


*

Sebagimana disebutkan dalam surah Al-Muddatstsir ayat 30, malaikat apa ditugaskan Allah untuk menjaga neraka berjumlah sembilan belas. Terdapat tujuan mengapa Allah menyebutkan jumlah malaikat Zabaniah. Baik bagi orang-orang beriman, ahlul kitab (Yahudi), maupun bagi orang-orang kafir.

Kemudian di dalam surah Al-Muddatstsir ayat 31, kesalahan bahwa hasil disebutkannya jumlah malaikat penjaga neraka bagi orang-orang kafir ialah seperti ujian atau cobaan (fitnah). Bagi ahlul kitab (Yahudi), yaitu untuk meyakinkan atau menjelaskan fakta Al-Qur’an. Bahwa yang disebutkan Al-Qur’an sejalan dengan yang disebutkan di dalam kitab samawi apa mereka percaya, serta lebih dahulu diturunkan dahulu Al-Qur’an. Sedangkan bagi orang-orang beriman, yaitu untuk menambah keimanan mereka.

Setelah memahami uraian di atas, kita beranjak memahami tafsir ayat selanjutnya. Allah Swt. Berfirman batin Al-Qur’an surah Al-Muddatstsir ayat 32-37:

كَلَّا وَٱلۡقَمَرِ ۝ وَٱلَّیۡلِ إِذۡ أَدۡبَرَ ۝ وَٱلصُّبۡحِ إِذَاۤ أَسۡفَرَ ۝ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ۝ نَذِیرࣰا لِّلۡبَشَرِ ۝ لِمَن شَاۤءَ مِنكُمۡ أَن یَتَقَدَّمَ أَوۡ یَتَأَخَّرَ ۝

Kalla wal qamar (32) wal laili idza adbar (33) to wash shubhi idza asfar (34) innaha laihdal kubar (35) nadziran lil basyar (36) liman syaa minkum an yataqaddam au yataakhkhar (37)

Artinya: 

“Tidak! Demi bulan, (32) dan demi malam kapan telah berlalu, (33) dan demi subuh apabila start terang, (34) sesunggunya (Saqar itu) adalah salah satu (bencana) apa sangat besar, (35) seperti peringatan bagi manusia, (36) (yaitu) bagi siapa tengah kamu apa ingin maju ataukah mundur. (37)”

Ayat 32 awal dengan redaksi penolakan, yakni berupa lafal “kalla”. Di dalam Tafsir Al-Kabir, Imam Fakhruddin Ar-Razi suku bahwa ada ulama apa berpendapat bahwa lafal tersebut merupakan penolakan terhadap orang apa mengingkari bahwa bencana apa amat dahsyat menyertainya merupakan peringatan. Ada tambahan yang mengartikannya such penolakan terhadap ucapan Abu Jahal dan kawan-kawannya, yang menyangka bahwa mereka become mampu melawan malaikat Zabaniyah.

Sebelum memberikan informasi ekstra mengenai Saqar, Allah tambahan mendahuluinya dengan sumpah. Penggunaan sumpah ini menurut dengan fasih tafsir menunjukkan adanya pengagungan terhadap sesuatu yang disumpahi (muqsam ‘alaih) ataukah sesuatu yang were sebab adanya sumpah (jawab qasam). Yaitu pengagungan terhadap insula terkait neraka Saqar, atau neraka Saqar menemani itu sendiri.

Melalui surah Al-Muddatstsir ayat 35, Allah mengabarkan bahwasanya neraka Saqar merupakan deviasi satu dari bencana-bencana yang amat sangat dahsyat. Chapter ini dapat memahami dari menerjemahkan Imam Jalaluddin Al-Mahalli batin Tafsir Al-Jalalain, apa memaknai redaksi “ihdal kubar” mencapai “al-balaya al-‘idzam” (bencana-bencana apa agung).

Sedangkan Imam Ar-Razi mengartikan “al-kubar” such “darakatu jahannam” (lapisan kerak neraka), apa terdiri dari Jahannam, Ladza, Huthamah, Sa’ir, Saqar, Jahim, dan Hawiyah. Sehingga, redaksi “ihdal kubar” beliau artikan such penjelasan bahwa Saqar merupakan deviasi satu dari beberapa lapisan kerak neraka.

Neraka Saqar also disebut kemudian peringatan bagi seluruh manusia. Peringatan dengan neraka Saqar ini, menurut Imam Ahmad Ash-Shawi, tidak hanya berlaku bagi satu kaum saja, melainkan bagi siapa saja apa menghendakinya. Bagi apa berkenan resepsi peringatan dan ambil jalan jenis dengan berbekal iman, maupun apa masih memegang di fase kejahatan dengan modal kekufuran. Buat dengannya pula, Allah memberikan ancaman sulit (wa’id) dan intimidasi (tahdid).

Penafsiran pada didasarkan diatas firman Allah;

وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَاۤءَ فَلۡیُؤۡمِن وَمَن شَاۤءَ فَلۡیَكۡفُرۡ

Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran menemani itu datangnya dari Tuhanmu; barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah itu beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.”

Dalam dipahami ayat 37, terdapat perbedaan apa cukup kentara antara golongan Muktazilah mencapai golongan Ahlus Sunnah. Sebagaimana disebutkan malalui Imam Ar-Razi, golongan Muktazilah keuntungan redaksi “liman syaa minkum an yataqaddam au yataakhkhar” seperti hujjah atas pemahaman mereka bahwa seorang hamba sangat mungkin bertindak apa pun benar kehendaknya, tanpa selalu terikat dengan roh Tuhannya.

Lihat lainnya: Cerita Ade Irma Suryani Nasution Wafat, Parks Ade Irma Suryani Nasution Indonesia

Pemahaman tersebut then direspon oleh golongan Ahlus Sunnah yang berpendapat bahwa tindakan seorang hamba menyertainya memang bergantung di atas kehendaknya sendiri. Akan tetapi, roh dirinya itu pasti bergantung diatas kehendak Allah Swt. Jadi, pasti dengan tegas ada pertalian antara hamba dengan Tuhannya.

Pemahaman golongan Ahlus Sunnah ini didasarkan di atas firman Allah Swt.;

وَمَا تَشَاۤءُونَ إِلَّاۤ أَن یَشَاۤءَ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِیمًا حَكِیمࣰا

“Tidaklah kita mampu berkehendak, kecuali apabila menginginkan Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”