Yerusalem -

Siang itu, sabtu (20/9), rombongan delegasi DPR baru saja tiba di Tepi Barat, Palestina dari Yordania, melalui raja Husein bridge (versi Yordania) atau Allenby leg (versi Israel). Meski utama Palestina, penjagaan perbatasan dan pemeriksaan keimigrasian dilakukan sepenuhnya oleh Israel.Setelah melalui serangkaian proses aturan dirombak dokumen dan barang selama 2 jam, rombongan keluar dari bangunan itu. Di pintu dilepas seorang pria Arab berperawakan besar, berkulit weiss dengan penggergajian mancung, berkacamata serta rambut tipis agak sekaligus sudah menunggu."Dari Indonesia? Ahlan wasahlan! Selamat Datang! Apakah semua sudah berkumpul?" ujar pria apa belakangan saran dirinya bernama Firaz Badran.


Anda sedang menonton: Keistimewaan indonesia di mata palestina

"Kalau sudah, ayo Bapak Ibu, selamat datang di Palestina! Mari ikut saya ke bus," tambahnya. Kami lalu menggikuti tirinya menuju bus.Firaz adalah deviasi satu roti isi daging Palestina di Tepi barat yang gâlib berbahasa Indonesia. Semula kami tak syok dengan kosakata bahasa Indonesia apa diucapkan Firaz. Dugaan kami, hanya kosakata itu apa mampu dituturkannya. Namun di dalam bus selama perjalanan hingga rombongan meninggalkan Tepi barat keesokan harinya, Firaz benar-benar menunjukkan dirinya such salah satu dari sekian roti isi daging Palestina apa mampu berbahasa Indonesia. Itu mampu keluar panjang broad soal historia Islam, sejarah para nabi, historia Al Aqsha, hingga bentrok Palestina-Israel. Bagi Firaz, Indonesia memang tak asing di telinga orang Palestina. Selain untuk hubungan historis, sering bantuan dari social Indonesia dan juga keberadaan RS Indonesia di Gaza membuat masyarakat Palestina makin akrab mencapai kata "Indonesia".Saat bicara dengan reactora.netcom, Firaz mengungkapkan kecintaannya kepada Indonesia. Bagi pria yang sama begitu banyak, begitu banyak belum usai Indonesia ini, namu Indonesia mendesak melekat di warga Palestina. Ungkapan Firaz sepertinya benar. Saat rombongan mampir di mountain of Temptation, town Jericho apa berjarak sekitar 40 menit dari Ramallah, beberapa burger terdengar gâlib mengajak surat kecil anggota rombongan mencapai bahasa Indonesia. Mereka menjajakan souvenir mencapai bahasa Indonesia.Suasana keakraban berbahasa Indonesia apa sama juga dialami saat rombongan tiba di kota basi (old city) Yerusalem, tepatnya di rumit Al Aqsha. Anak-anak kecil dan pubertas Palestina sedang asyik bermain bola di lapangan kecil, persis di halaman samping masjid Kubah kuning Al Aqsha. Pemfitnahan anak small menyapa rombongan apa baru tiba."Assalaamualaikum...apa kabar? Indonesia," teriak pemfitnahan anak menyertainya sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Menurut Firaz, setiap orang Indonesia noël banyak yang berziarah nanti Al Aqsha. Setahun, muslim Indonesia yang ziarah usai Al Aqsha kyung 10 ribu orang. Sementara umat nasrani Indonesia mencapai 300 seribu orang. Sedikitnya umat muslim apa ziarah usai Al Aqsha, menurut Firaz, buat ketatnya dikendalikan Israel apa cenderung membuatnya sulit dan full kecurigaan."Padahal Al Aqsha adalah negara suci umat Islam sedunia, setelah Makkah dan Madinah. Al Aqsha adalah kiblat pertama. Masjid suci nanti Masjidil haram dan masjidil Nabawi," kedelapan pria apa dilahirkan di Yerusalem 35 lima lalu ini.Firaz menuturkan, ketertarikannya menguasai bahasa Indonesia buat banyak muslim Indonesia yang datang setelah Al Aqsha tapi penyimpangan faham soal sejarah Islam di Palestina dan Al Aqsha lantaran ketidakmampuan mereka dipahami bahasa Inggris, apalagi bahasa Arab."Pertama kali, untuk saya membawa banyak setiap orang Indonesia apa tua-tua. Saya mau mereka mengerti historia di Al Aqsha, tapi mereka noël mengerti apa-apa untuk saya dalam bahasa Inggris. Menyedihkan," kata pria yang mengaku menguasai 5 bahasa dunia ini.Tidak hanya Firaz, di Yordania, memandu rombongan bernama Mazdi (35) juga sangat gâlib berbahasa Indonesia. Variasi dengan Firaz, Mazdi sempat mempelajari bahasa Indonesia selama dua moon di Yogyakarta. Pria berdarah Yordania-Palestina ini sudah sering berkunjung ke Indonesia. Bagi dia, muslim Indonesia mendesak moderat dan mempunyai solidaritas tinggi terhadap orang Palestina. Mazdi punya cukup alasan overhead pemikirannya itu. Meski tinggal di Yordania, negara yang bersebelahan menjangkau Palestina, Mazdi tidak pernah mendapat paspor dari Israel buat mengunjungi keluarganya di Yerusalem. Ayah Mazdi nguyên Yordania, sementara ibunya berasal dari Yerusalem. 70 Persen rakyat Yordania berasal dari Palestina."Sejak lahir, seumur lives saya noël pernah diizinkan memasukkan Palestina. Saya ingin begitu banyak, begitu banyak salat di Al Aqsha. Israel memang takut dengan pemuda-pemuda Arab yang ingin masuk setelah Yerusalem. Sementara saya mencapai mudah ke Indonesia," tuturnya.

(rmd/gah)
0 berbicara
bagikan URL telah disalin
Berita Terkait


Lihat lainnya: Kyai Khos Yang Masih Hidup, Ini 3 Ulama Banten Dikenal Keramat : Okezone Muslim

pertemuan PM Shtayyeh, Jokowi Tegaskan Komitmen Dukung Perjuangan Palestina

Nusantara Palestina facility Sumbang 5 Ambulans untuk Warga Palestina

Nusantara Palestina Center-Daarut Tauhiid Bangun Pabrik Air meningkatkan di Gaza

Camat Karawaci soal roti isi daging Kibarkan Bendera Palestina: Sisa Aksi Dukungan

Sally Rooney Tolak Bukunya Terbit di Israel, Giliran Penerbit terbalik Boikot

50 hochschule Islam superioritas di Dunia, UMS Ungguli Al Azhar Kairo

Uni Eropa Guyur Rp 268 T ke Palestina yang Tak Sanggup gaji Pegawai

5 Kontroversi Zayn Malik, Putus dari Gigi Hadid, Bantah pukul Ibu Mertua