Prabu Kiansantang ataukah Raden Sangara atau Syeh Sunan Rohmat Suci, adalah Putra prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja king Pakuan pajajaran dengan Nyi subang Larang, Pernikahan bugar Siliwangi mencapai Nyi anting Larang dinikahkan melalui Syekh Quro Karawang. Dari pernikahan Sri Baduga maharaja dengan Nyi subang Larang dikarunia 3 people putra yaitu Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), Rara Santang (ibu Sunan Gunung Jati) dan Prabu Kiansantang.

Anda sedang menonton: Keturunan raden kian santang sampai sekarang


*

Pada usia 22 tahun Prabu Kiansantang diangkat dijadikan dalem Bogor ke 2 yang masa itu bertepatan dengan upacara penyerahan menempel pusaka empire dan penobatan prabu Munding Kawati, putra Sulung prabu Susuk Tunggal, dijadikan panglima luhur Pajajaran. Definisi mengenang peristiwa sakral penobatan dan penyerahan adhesi pusaka pajajaran tersebut, sebabnya ditulislah oleh prabu Susuk Tunggal di atas sebuah batu, apa diketahui mencapai sekarang dengan namu Batu Tulis Bogor.

Peristiwa itu adalah kejadian paling istimewa di lingkungan Keraton jauh yanan dan bisa diketahui melalui kita semua seperti pewaris sejarah negara khususnya di Jawa Barat. Prabu Kiansantang adalah sinatria yang gagah perkasa, tak benar apa bisa mengalahkan kegagahannya. Darimana kecil menjangkau dewasa yaitu usia 33 tahun, prabu Kiansantang belum kenal darahnya sendiri dalam artian belum benar apa menandingi kegagahannya dan kesaktiannya disejagat pulau Jawa.

Sering beliau merenung seorang diri memikirkan, "dimana benar orang kuat dan sakti yang bisa menandingi kesaktian dirinya". Berhenti prabu Kiansantang memohon kepada ayahnya yaitu bugar Siliwangi supaya mencarikan seorang lawan apa bisa menandinginya. Sang ayah panggilan para berbakat nujum kepada menunjukkan siapa dan dimana benar orang gagah dan sakti yang bisa menandingi prabu Kiansantang. Namun tak seorangpun apa bisa menunjukkannya.

Prabu Kiansantang dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib

Tiba-tiba mendatangi seorang kakek apa memberitahu bahwa orang yang bisa menandingi kegagahan prabu Kiansantang akun itu adalah Sayyidina Ali, apa tinggal jauh di negara Mekah. Pada kenyataannya pada waktu itu Sayyidina Ali telah wafat, namun kejadian ini dipertemukan secara goib dengan kekuasaan Alloh yang Maha Kuasa.

Lalu orang başı itu bercakap kepada prabu Kiansantang: "Kalau memang their mau bertemu dengan Sayyidina Ali harus menerapkan dua syarat: Pertama, harus mujasmedi dahulu di ujung kulon. Kedua, nama harus diganti dijadikan Galantrang Setra (Galantrang - Berani, Setra - Bersih/ Suci). Setelah Prabu Kiansantang menerapkan dua syarat tersebut, sebabnya berangkatlah beliau ke tanah mengucapkan Mekah.

Setiba di negara Mekah beliau pertemuan dengan seorang lelaki apa disebut Sayyidina Ali, namun Kiansantang tidak mengetahui bahwa laki-laki akun itu bernama Sayyidina Ali. Prabu Kiansantang yang namanya sudah bertukar dijadikan Galantrang Setra menanyakan kepada laki-laki itu: "Kenalkah mencapai orang yang namanya Sayyidina Ali?" Laki-­laki itu angklung bahwa ia kenal, malah sanggup mengantarkannya nanti tempat Sayyidina Ali.

Sebelum di atas laki-laki menemani itu menancapkan sebelum tongkatnya setelah tanah, yang tak diketahui melalui Galantrang Setra. Ke berlangsung banyak puluh meter, Sayyidina Ali bercakap, "Wahai Galantrang Setra tongkatku sampah sarap di tempat tadi, coba tolong ambilkan dahulu." lebih baru Galantrang Setra tidak mau, namun Sayyidina Ali menyebut, "Kalau noel mau ya tentu noël akan bertemu dengan Sayyidina Ali."

Terpaksalah Galantrang Setra back ketempat bertemu, kepada mengambilkan tongkat. Setibanya di tempat adhesi tertancap, Galantrang Setra mencabut tongkat dengan sebelah tangan, dikira menempel itu become gampang bebas. Ternyata tongkat noël bisa dicabut, malahan noël sedikitpun berubah. Sekian lagi beliau berupaya mencabutnya, tetapi tongkat itu tetap tidak berubah. Ketiga kalinya, Galantrang Setra mencabut menempel dengan sekuat tenaga dengan disertai tenaga bathin. Tetapi dari pada kecabut, malahan kedua kaki Galantrang Setra amblas masuk nanti dalam tanah, dan disetujui pulalah darah dari seluruh berbadan Galantrang Setra.


*

Tongkat Ali bin Sisa dari menggoyangkan Thalib yang dihadiahkan di atas Rakeyan Sancang apa benar di Kaum Pusaka (Yayasan Pusaka muslim diketuai Ucep Jamhari) Cinunuk Garut

Ternyata laki-laki apa baru diketahuinya tadi namanya Sayyidina Ali. Usai Prabu Kiansantang meninggalkan town Mekah kepada pulang setelah Tanah Jawa (Pajajaran) beliau terlunta-lunta tidak kenal direction tujuan, sebabnya beliau memikirkan kepada bagian belakang ke tanah Mekah lagi. Sebabnya kembalilah prabu Kiansantang menjangkau niatan menjadi menemui Sayyidina Ali dan bermaksud masuk religius Islam. Bugar Kiansantang masuk religius Islam, beliau bermukim selama dua puluh aku sambil mempelajari petuah keagamaan Islam. Terdekat beliau pulang ke tanah Jawa (Pajajaran) kepada menengok ayahnya prabu Siliwangi dan saudara-saudaranya. Setibanya di pajajaran dan bertemu dengan ayahnya, beliau menceritakan pengalamannya selama bermukim di negara Mekah serta pertemuannya mencapai Sayyidina Ali. Pada belakang kisahnya beliau memberitahukan beliau telah masuk Islam dan berniat mengajak ayahnya kepada masuk agama Islam.

Kiansantang dan Rakeyan Sancang

Prabu Kiansantang inilah apa disebut-sebut tradisi masyarakat Garut sebagai putra king Padjadjaran (Prabu Siliwangi) apa berselisih petuah mengenai kepercayaan agama, tapi pegang mereka bersepakat Kean Santang diberi keleluasaan kepada menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah kerajaan Padjadjaran, petilasan yang berkomunikasi dengan Kean Santang benar di Godog garut berupa makam, gunung Nagara berupa bekas pertahanan dan di Cilauteureun.

Lihat lainnya: I Hate You, I Love You I Love You, I Hate U I Love U Song Analysis

Kisah rakyat dibawah menurun dari mulut usai mulut bahwa prabu Kiansantang / keian Santang zaman setelah 15 yang pertemuan dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib five 599-661 dan kejar dia bapaknya prabu Siliwangi kepada di Islam-kan, hai ini terkait menjangkau siapa pemeluk Islam pertama di tataran Sunda, yakni dengan nama yang serupa mencapai Pangeran dari kerajaan Tarumanagara, yang bernama Rakeyan Sancang (lahir 591 M) putra raja Kertawarman (Raja kerajaan Tarumanagara 561 – 618 M) saudara sebapak raja Suraliman Sakti (568–597) Putra Manikmaya cucu Suryawarman king Kerajaan Kendan.

Keturunan Ki Santang

Dalam wangsit uga siliwangi konon bahwa keturunnya ini adalah dijadikan pengingat mengingatkan saudara kami dan rakyat lain. Usai saudara sedaerah, nanti saudara yang datang sependirian dan semua apa adun hatinya:

Beliau nu di beulah kulon! Papay ku beliau lacak Ki Santang! Sabab engkéna, turunan beliau sah panggeuing ka dulur jeung ka batur. Ka batur urut salembur, ka dulur anu nyorang saayunan ka sakabéh nu rancagé di haténa. Engké jaga, mun pusat peuting, ti gunung Halimun kadéngé sora tutunggulan, tah éta tandana; saturunan beliau disambat ku nu dék kawin di Lebak Cawéné. Ulah sina talangké, sabab talaga bakal bedah! Jig geura narindak! Tapi ulah ngalieuk ka tukang!:

artinya:

Kalian yang di sebelah barat! Carilah oleh kita Ki Santang! Sebab

nanti, keturunan kalian yang akan tahu saudara kalian dan setiap orang lain. Setelah saudara sedaerah, usai saudara apa datang sependirian dan semua apa adun hatinya. Suatu masa nanti, apabila sentral malam, dari gunung Halimun suara suara bertanya tolong, nah menyertainya adalah tandanya. Setiap orang keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah di Lebak Cawéné. Jangan menjangkau berlebih-lebih, sebab pada saat kemudian telaga akan banjir! Silahkan pergi!