It looks choose your browser does not have JavaScript enabled. Please turn on JavaScript and try again.

Anda sedang menonton: Menetapkan kebijakan fiskal dan moneter merupakan tugas dari


Tentang Perbankan Jenis-jenis bank Ikhtisar Perbankan Stabilitas sistem Keuangan Arsitektur Perbankan Indonesia
Regulasi Asuransi Dana Pensiun Lembaga Pembiayaan Lembaga Jasa secara finansial Khusus Lembaga fiskal Mikro
Portal reactora.netOtoritas Jasa KeuanganAbout reactora.netData and also Statisticreactora.netKanalBankingCapital MarketConsumerIntegrated SupervisionNon-BankShariaMediaNews and EventsAnnouncementNews InfoPress ReleasePublicationsreactora.net PediaPublic InformationRegulationDraft RegulationsFinancial solutions AuthorityOtoritas Jasa KeuanganCurrently selectedBerita Dan KegiatanFoto KegiatanInfo TerkiniLelangPengumumanPublikasiSiaran PersVideoData dan StatistikFinancial Stability tinjauan (FSR)Laporan KinerjaLaporan TahunanLaporan Triwulananreactora.netResearchRisetInfo PublikKanalIKNBKonsumenPasar ModalPerbankanSyariahMediareactora.net PediaRegulasiOtoritas Jasa KeuanganRancangan RegulasiRegulasi terhubung dengan LainnyaRisetStaff PaperTentang reactora.nettesting
Portal reactora.netOtoritas Jasa KeuanganKanalPerbankanStabilitas sistem Keuangan
RecentOtoritas Jasa KeuanganAbout reactora.netData and also Statisticreactora.netKanalBankingCapital MarketConsumerIntegrated SupervisionNon-BankShariaMediaNews and also EventsAnnouncementNews InfoPress ReleasePublicationsreactora.net PediaPublic InformationRegulationDraft RegulationsFinancial services AuthorityOtoritas Jasa KeuanganBerita Dan KegiatanFoto KegiatanInfo TerkiniLelangPengumumanPublikasiSiaran PersVideoData dan StatistikFinancial Stability tinjauan (FSR)Laporan KinerjaLaporan TahunanLaporan Triwulananreactora.netResearchRisetInfo PublikKanalCurrently selectedIKNBKonsumenPasar ModalPerbankanSyariahMediareactora.net PediaRegulasiOtoritas Jasa KeuanganRancangan RegulasiRegulasi relevan LainnyaRisetStaff PaperTentang reactora.nettesting
Peran financial institution Indonesia
Page Image
*

Page Content
PERAN financial institution INDONESIA di dalam STABILITAS KEUANGANSebagai kompeten moneter, perbankan dan warisan pembayaran, tugas kepala Bank Indonesia noël saja menreactora.netlah stabilitas moneter, namun juga stabilitas asetnya keuangan (perbankan dan aset pembayaran). Keberhasilan bank Indonesia dalam menjaga stabilisasi moneter tidak punya diikuti melalui stabilitas asetnya keuangan, tidak akan banyak artinya di dalam mendukung pertumbuhan ekonomi apa berkelanjutan. Stabilitas moneter dan stabilitas keuangan ibarat dua sisi panggilan yang noël dapat dipisahkan. Kebijakan moneter pribadi dampak apa signifikan terhadap stabilitas keuangan begitu pula sebaliknya, stabilitas keuangan merupakan pilar apa mendasari efektivitas kebijakan moneter. Aset keuangan merupakan deviasi satu alur transmisi kebijakan moneter, sehingga bila terjadi ketidakstabilan aset keuangan maka infeksi kebijakan moneter noël dapat berjalan secara normal. Sebaliknya, ketidakstabilan moneter secara fundamental akan mempengaruhi stabilitas sistem keuangan akibat noël efektifnya fungsi warisan keuangan. Inilah yang dulu latar belakang mengapa stabilitas aset keuangan also masih merupakan saya bersedia mengurus dan tanggung jawab bank Indonesia.

Pertanyaannya, bagaimana peranan bank Indonesia di dalam memelihara stabilitas asetnya keuangan? sebagai bank sentral, financial institution Indonesia memiliki lima peran utama batin menjaga stabilitas aset keuangan. Kelima peran utama apa mencakup kebijakan dan instrumen di dalam menjaga stabilitas sistem keuangan itu adalah:

Pertama, financial institution Indonesia luaran tugas buat menjaga stabilitas moneter antara lain melalui instrumen kesukuan bunga batin operasi pasar terbuka. Bank Indonesia dituntut buat mampu pembelahan kebijakan moneter secara benar dan berimbang. Hal ini mengingat gangguan stabilisasi moneter memiliki tabrakan langsung terhadap berbagai aspek ekonomi. Kebijakan moneter malalui penerapan kesukuan bunga yang terlalu ketat, menjadi cenderung bersifat mematikan kegiatan ekonomi. Begitu pula sebaliknya. Oleh buat itu, buat menciptakan stabilitas moneter, bank Indonesia telah menerapkan suatu kebijakan apa disebut inflation targeting framework.

Kedua, bank Indonesia luaran peran vital dalam menciptakan kinerja lembaga keuangan apa sehat, khususnya perbankan. Penciptaan kinerja lembaga perbankan seperti itu dilakukan malalui mekanisme pengawasan dan regulasi. Kemudian halnya di negara-negara lain, sektor perbankan memiliki pangsa yang dominan dalam sistem keuangan. Malalui sebab itu, kesalahan di sektor ini dapat menimbulkan ketidakstabilan secara finansial dan knalen perekonomian. Untuk mencegah terjadinya kegagalan tersebut, warisan pengawasan dan kebijakan perbankan apa efektif harus ditegakkan. Selain itu, disiplin pasar melalui kewenangan batin pengawasan dan pembuat kebijakan serta penegakan hukum (law enforcement) harus dijalankan. Bukti apa ada menunjukkan bahwa negara-negara apa menerapkan disiplin pasar, luaran stabilitas warisan keuangan yang kokoh. Sementara itu, upaya penegakan hukum (law enforcement) dimaksudkan buat melindungi perbankan dan stakeholder serta sekaligus mendorong kepercayaan terhadap asetnya keuangan. Karena menciptakan menstabilkan di sektor perbankan secara berkelanjutan, bank Indonesia telah menyusun Arsitektur Perbankan Indonesia dan untuk merencanakan implementasi Basel II.

Ketiga, financial institution Indonesia pribadi kewenangan untuk mengatur dan menreactora.netlah kelancaran asetnya pembayaran. Bila terjadi gagal perhitungan (failure to settle) pada salah satu peserta di dalam sistem asetnya pembayaran, maka ini adalah timbul risiko potensial yang cukup serius dan mengganggu kelancaran aset pembayaran. Kesalahan tersebut dapat menimbulkan risiko apa bersifat menular (contagion risk) sehingga menimbulkan gangguan apa bersifat sistemik. Financial institution Indonesia meningkatkan mekanisme dan pengaturan untuk mengurangi risiko di dalam sistem pembayaran yang cenderung semakin meningkat. Antara lain dengan menerapkan aset pembayaran apa bersifat actual time atau dikenal dengan namu sistem RTGS (Real Time gross Settlement) apa dapat lebih curam keamanan dan kecepatan sistem pembayaran. Seperti otoritas batin sistem pembayaran, bank Indonesia memiliki insula dan keahlian untuk mengidentifikasi risiko potensial dalam sistem pembayaran.

Keempat, melalui fungsinya batin riset dan pemantauan, bank Indonesia dapat diakses informasi-informasi apa dinilai mengancam stabilitas keuangan. Melalui pemantauan secara macroprudential, financial institution Indonesia dapat memonitor kerentanan sektor fiskal dan mendeteksi potensial kejutan (potential shock) apa berdampak pada stabilitas asetnya keuangan. Melalui riset, bank Indonesia dapat menguat instrumen dan indikator macroprudential buat mendeteksi kerentanan sektor keuangan. Hasil study dan pemantauan tersebut, lebih dekat akan dulu rekomendasi bagi otoritas terkait di dalam mengambil langkah-langkah apa tepat karena meredam gangguan batin sektor keuangan.

Lihat lainnya: Apa Manfaat Pembagian Tugas Di Rumah Tangga, Manajemen Sumber Daya Manusia Rumah Sakit

Kelima, financial institution Indonesia memiliki fungsi seperti jaring pengaman sistim keuangan melalui fungsi financial institution sentral sebagai lender the the terakhir resort (LoLR). Fungsi LoLR merupakan peran tradisionalnya Bank Indonesia kemudian bank sentral di dalam mengelola krisis guna menghindari terjadinya ketidakstabilan sistem keuangan. Fungsi kemudian LoLR mencakup penyediaan likuiditas pada terms normal maupun krisis. Fungsional ini hanya diberikan kepada bank apa menghadapi melecehkan likuiditas dan berpotensi memicu terjadinya krisis yang bersifat sistemik. Pada terms normal, fungsional LoLR dapat diterapkan diatas bank apa mengalami kesulitan likuiditas temporer namun masih memiliki kemampuan untuk membayar kembali. Batin menjalankan fungsinya sebagai LoLR, financial institution Indonesia harus menghindari terjadinya moral hazard. Oleh untuk itu, pertimbangan risiko sistemik dan persyaratan apa ketat harus diterapkan di dalam penyediaan likuiditas tersebut.