Tinjauan terhadap makam-makam Islam lehernya di Barus menegaskan kembali teori masuknya Islam ke Nusantara.

Anda sedang menonton: Pembawa ajaran islam di indonesia terdiri dari


*

*
Salah satu nisan di kompleks Makam Mahligai, Barus, tapanuli Tengah, Sumatra Utara. (Septianda Perdana/Shutterstock).

Selanjutnya kompleks Makam Mahligai yang terletakdi Kecamatan Barus. Di dalam jurnal apa ditulis Bastian bersama Ghilman Assilmi, arkeolog chip hotch Indonesia, berjudul “Representation and also Identity the Persian islamic Culture in ancient Graves that Barus, phia băc Sumatra”, termuat batin International formulir penilaian of humanities Studies Vol. 3 No. 2 Juli 2018, disebutkan kalau tokoh apa dimakamkan here diyakini seperti salah satu dari 44 Awliya. Mereka adalah Syekh Rukunuddin, Syekh Ushuluddin, Syekh Zainal Abidin Ilyas, Syekh Ilyas, Syekh Imam Khotib Mu’azzamshah Biktiba’i, Syekh Syamsuddin, dan Syekh Abdul Khatib Siddiq.


Baca juga:Jejak Peradaban Barus

Selain makam Awliya, di sekitarnya juga terdapat beberapa batu nisan menjangkau bentuk apa sama. Namun ornamennya lebih sederhana. Makam akun itu dianggap kemudian pusara para pengikut Awliya.

Adapun rumit Permakaman Ambar terletak tentang 1,5 kilometres di utara Kompleks Makam Ibrahim. Berjarak 500 meter dari pinggir jalur kabupaten. Hanya ada satu nisan apa memuat namu almarhum. Namun, saat ini kondisi nisan sudah tak lagi memungkinkan karena dibaca keterangannya.

Berdasarkan pembacaan apa dilakukan melalui Ludvik Kalus, nama belakang dalam nisan menyertainya didahului gelar al-syekh. Terdapat pujian baginya yang berbunyi: “Semoga Allah menyucikan jiwanya apa mulia!”

“Hampir sama dengan pujian dalam tulisan berbahasa Arab di ~ nisan selatan makam Syekh Mahmud di papan Tinggi. Tapi tipologinya nisan ini bisa ~ dibandingkan mencapai nisan north di board Tinggi,” jelas Kalus.

Baca juga:Catatan tentang Islamisasi di Sumatra

Nisan makam Syekh Mahmud di kompleks Makam board Tinggi yang paling mencolok. Letaknya di ~ sebuah bukit setinggi 215 m di ~ permukaan laut. Untuk mencapainya people harus kemelut kira-kira 800 langkah.


Ada delapan makam. Tujuh makam berkelompok dengan bentuk nisan sederhana.Satu kuburan terpisah dari tujuh lainnya. Letaknya di puncak bukit. Ini merupakan kuburan terutama milik deviasi satu dari 44 Awliya. Menurut cerita masyarakat setempat, nisan yang dibuat dari granit itu milik Syekh Mahmud al-Hadramaut. Bastian memperkirakan, makam ini berasal dari 1300-an M.

Jarak antara kedua rock nisan apa menandai makam sang syekh kira-kira 15 m. Pada tubuh dan utama nisan terdapat inskripsi.Beberapa bagian berat dibaca untuk sudah aus.

Pada rock nisan Syekh Mahmud apa ada di sisi selatan inskripsinya ditulis batin bahasa Arab. “Syekh Mahmud, harapan Allah menyucikan jiwanya!” tulis sebagian prasasti itu.

Baca juga:Benarkah Samudera pasai Kerajaan Islam pertama di Nusantara?

Sementara rock nisan yang ada di sisi utara ditulisi dengan bahasa Persia. Written di sana, hingga 829 H/1425-6 M, makan ini tersembunyi di dunia gaib. Penggalan inskripsinya berbunyi: “Makam ini makam Syekh Mahmud. Dan setiap hari, keajaiban mengembangkan bagi apa minta pertolongan.”

“Syekh Mahmud semestinya adalah seorang syekh ahli sufi yang lokasi makamnya tak diketahui. Terungkapnya angkasa ini terjadi pada 829 H/1425-6 M di batin mimpi Tūğīn b. Maḏari,” jelas Kalus.

Begitu pula kata Bastian, kalimat bahwa makam ini pernah bersembunyi di dunia gaib demo unsur sufi yang kental. “Seseorang bermimpi bahwa here adalah kuburan Syekh Mahmud. Ini unsur sufinya terutang kental,” katanya.


Penyebaran paling Berhasil

Irmawati Marwoto, arkeolog universitas Indonesia, percaya bahwa pedaganglah yang mengawali masuknya Islam usai Nusantara. “Sebelumnya bisa Islam siap datang. Kita harus membedakan kedatangan dan penyebaran,” kata Irma.

Setelah para pedagang datang ke Nusantara, mereka lalu menetap. Di Banten misalnya, kata Irma, di kawasan menyertainya terdapat Situs Pakojan. “Di sini pedagang muslim menetap. Di berbagai kerajaan itu dipisah-pisah, kalau Persia, Arab konvensional di Pakojan. Kalau dari Tiongkok tradisional di Pecinan,” kata Irma.

Baca juga:Peran Ulama di dalam Kerajaan Islam di Nusantara

Setelah menetap, pedagang-pedagang muslim menyertainya lalu membangun masjid. “Jadi ada proses tampan lama koknya Islam masuk nanti seluruh kanton Indonesia,” kata Irma.

Menurut Irma, kalau ada apa mengatakan Islam sudah hadir di Nusantara abad ke-7, itu tidak dibuktikan secara arkeologis, tetapi tercatat di dalam naskah Tiongkok.

“Di berita Tiongkok ada permukiman setiap orang Arab di pesisir Sumatra,” kata Irma. “Tapi ndak pembuktian arkeologi.”

Kendati begitu, Bastian menilai penyebaran Islam paling berhasil dilakukan melalui kaum sufi. “Kaum sufi ini datang, menaikkan perguruan, ada mahasiswa dan pengikut apa banyak,” kata Bastian.


Baca juga:Ulama-Ulama Nusantara penyebar Islam yang belajar ke Hijaz

Tak diragukan pula ada ulama-ulama dari Nusantara yang belajar di Makkah atau Madinah (Hijaz) di Arabia. Mereka pun turut serta batin proses Islamisasi.

Lihat lainnya: Awal Muharram & " Doa Awal Tahun &Amp; Akhir Tahun Hijriah, Doa Awal Tahun

Apa apa ditunjukkan melalui beberapa nisan kuno di Barus, menurut Bastian, telah menegaskan kembali teori masuknya Islam, yakni melalui para sufi dari Asia Tengah setelah Nusantara.

“Nisan kemudian salah satu media dakwah. Mengapa nisan harus dibuat indah? Di kaum sufi mereka menyebut bahwa nisan adalah sign orang hidup, buat pesan kepada setiap orang hidup, mengambil pelajaran darinya,” kata Bastian.