Pulau Obi, di Halmahera Selatan, Maluku Utara, telah terbangun kawasan industri hilirisasi nikel dan bangunan pabrik untuk membuat bahan baku baterai kendaraan listrik. Dari tambang nikel sampai pabrik smelter ada di sana. Alam kyung dan kehidupan warga pun berubah… Bukit apa dulu hijau kini berganti memanggang bangunan dan fasilitas kawasan industri. Banyak unit generator listrik tenaga basah (PLTU) batubara terbangun buat mendukung energi kawasan industri.

Anda sedang menonton: Pulau halmahera adalah penghasil barang tambang

 Bagaimana nasib lingkungan kyung dan warga? Sungai-sungai sampai tepian laut pun berubah warna, dari jernih were kemerahan. Belum lagi debu memenuhi pemukiman tentu saja musim kemarau. Kehidupan roti isi daging pun transfer dari petani dan nelayan were buruh-buruh di industri tambang. Masalah lahan pun terjadi antara warga dan perusahaan. Kebun-kebun dengan berbagai tanaman lives pun tergusur. Sebagian warga tetap bertahan tak ingin lahan hidup mereka enim kawasan perusahaan. Mereka tak mau terima ganti rugi dengan biaya yang warga anggap jauh dari layak. Lahan sepasang Lily dan Andrias, misal, seluas 33 hektar dengan puluhan ribu tanaman kelapa, jambu mete dan lain-lain mau dihargai Rp38 juta.

Bukit terkelupas. Pepohonan hilang berganti bangunan-bangunan raksasa. Alat berat lalu-lalang mengeruk bukit, menumbangkan pepohonan. Cerobong-cerobong pabrik menyemburkan asap. Sebagian berwarna putih, ada warna warna hitam kereactora.netkelatan. Tak jauh dari sana, di tepian laut, tongkang-tongkang pengangkut batubara menepi.

Di bawah bukit dan bangunan, tentang dua 200 meter merupakan hunian warga apa berjejer di sepanjang pesisir. Kiri dan kanan menangani berbatasan menjangkau sungai-sungai-kecil. Selebihnya, dilampiri areal perusahaan di bawah Harita Group, yang membangun kawasan industri nikel.

Di hilir, sungai-sungai ini air ~ no lagi keruh, tetapi merah pekat dampak sendimentasi sampah ore nikel. Sampah plastik bekas minuman, sisa makanan, popok, dan lain-lain juga berserakan di pesisir pantai.

Pemandangan miris ini baru satu sisi dari arah lautnya lepas saat speedboat apa saya tumpangi diatas penghujung September lalu bereactora.netme menepi perlahan setelah bibir pantainya Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Untuk sampai di Kawasi, perlu sehari-semalam dari kota Ternate, diasuh kapal laut tujuan Jikotamo-Laiwui. Dari sini, kyung sejam lebih menempuh perjalanan dengan speedboat. Melewati pulau-pulau kecil nan rimbun dan sebagian siap terkeruk.

Kampung ini cantik terkepung pertambangan nikel since 2007. Ia terjepit middle fasilitas making dan bangunan penunjang pabrik dari dua kebenaran anak usaha Harita, PT Trimegah terjaga Persada (TBP) dan PT Gane Permai Sentosa (GPS). Kedua perusahaan ini dapat izin usaha pertambangan (IUP) dari bupati Halmahera Selatan, Muhamad Kasuba mencapai konsesi seluas 5.524 hektar.

Tiga masyarakat lain yang terafiliasi mencapai Harita dan operasi diatas IUP PT TBP guna menunjang kelancaran pabrik smelter bijih nikel, yakni, PT keagungan Surya Pertiwi (MSP), PT Halmahera Persada Lygend (HPL) dan PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF).

Setelah satu dekade lebih reactora.netporation, grup tambang beroperasi. Kini, sampai bikin kawasan industri buat memenuhi nyata baku baterai kendaraan listrik.

Baca juga: Riset sebut Anggapan pengangkutan Listrik untuk menghasilkan Emisi Sebanyak Kendaraan Fosil menemani itu Mitos

*
Bukit-bukit gundul di pulau Obi. Foto: Rabul Sawal/ reactora.net Indonesia

Abadan Nomor, roti isi daging Kawasi mengatakan, dampak cukup terasa mencapai terjadi perubahan sosial biakan dan ancaman hama ekologis makin menutup dengan warga. Kehidupan burger pun beralih dari petani dan nelayan menjadi buruh-buruh di industry tambang.

Dia masih ingat betul kehidupan kampung terlama di pulau Obi ini, setidaknya 15 five silam ataukah jauh-jauh days sebelum perusahaan melenggang. Dulu, kampung ini hidup tentram dan damai.

Kebutuhan pangan roti isi daging dan kearifan dipum berjalan stabil. Sagu dapat diolah mencapai mudah. Udara dan waiting bersih dapat cuma-cuma dari alam. Ikan, sayur, dan lauk lain mudah sekali mereka temukan di sungai dan laut.

“Setelah perusahaan masuk, semua berubah. Biakan gotong royong noël ada. Torang such hidup sendiri-sendiri,katanya.

Abadan melakukan dan ditanam di Kawasi. Kini, dialah berkepala empat punya dua anak. People tuanya termasuk apa menetap pertama di kampung ini. Lelaki apa dipercaya jadi imam kampung belasan tahun ini kenal keperluan masyarakat apa hidup di pesisir ndak dari tambang melainkan dari tanah pribadi dan laut, petani dan nelayan. Mata pencaharian yang tambahan dia geluti puluhan five ini.

Torang ini petani deng nelayan. Lahir dan besar dengan hasil estat dan laut, bukan dari tambang,” katanya.

Kawasi ini kampung apa dihuni sekitar 208 keluarga dengan 971 jiwa. Mata pencarian penduduk adalah petani dan nelayan. Burger kampung ini dari etnis Galela-Tobelo dan mendiami pulau Obi lebih dulu dari penduduk lain.

Kawasi berarti permukiman pertama di tanah Obira. Kini, pencarian ekonomi tradisionalnya berbasis alam atau lahan menyertainya hilang. Perlahan, kata Abadan, generasi nelayan dan petani sanggup lenyap.

Yulius Langkodi, tambahan waga Kawasi dirasakan akses nanti lahan garapan susah. Jalur satu-satunya ke quận itu sudah enim jalan perusahaan alias dimasukkan konsesi. Kalau hujan becek sekali. Saat panas, berdebu. Mau lewat pesisir pantai, jauh.

Dia ~ sudah noël ke kebun hampir beberapa bulan belakangan. Langkah kaki yang terbiasa jelajahi hutan dan berkebun selama puluhan tahun di Kawasi, makin terhimpit.

Torang pe hidup di Kawasi ini ~ no makin luas, tapi increasingly sempit.”

Warga kerap kali dihadang satpam kalau mau untuk mengambil kayu bakar di belakang pemukiman. Harus dapat surat benar dari perusahaannya baru bisa ke daerah itu. Sumber-sumber waiting warga juga terancam, tak bisa another mereka konsumsi.

Lihat lainnya: Sungai Di Jakarta Yang Sudah Bersih Dari Sampah : Okezone News

Ake Lamo, Danau Karo, Danau dan Sungai Loji, Sungai Toduku, air Cermin, dan waiting Terjun, semua berada batin konsesi tambang.