Pernah mendengarkan hadis ini, “Satu langkah wanita diambil rumah tidak punya menutup aurat, sebuah langkah pula ayahnya hampir dilampiri neraka. Satu langkah seorang istri dilepas rumah tidak punya menutup aurat, satu langkah suaminya hampir memasukkan neraka”.

Anda sedang menonton: Siapa yang menanggung dosa seorang janda


*

“Satu langkah wanita diambil rumah tidak punya menutup aurat, sebuah langkah pula ayahnya hampir memasukkan neraka. Sebuah langkah seorang istri dilepas rumah tidak punya menutup aurat, satu langkah suaminya hampir dilampiri neraka”.

“Maka aku tanggung dosa-dosanya si dia dari ayah dan ibunya, dosa maafkan saya saja apa telah dia lakukan, dari noël menutup aurat hingga ia ditinggalkan sholat. Semua apa berhubungan menjangkau si dia, aku tanggung dan bukan lagi setiap orang tuanya apa menanggung, serta become aku tanggung semua dosa calon anak-anakku.” Jika aku gagal, maka aku adalah suami apa fasik, ingkar dan aku rela dilampiri neraka, aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku.” 

Seringkali, terlalu sering malah, wanita dipaksa disusul nasihat ayah dan suaminya dengan dalih setelah itu suaminya ataukah ayahnya apa harus menderita dosa. Dua hadis di atas dikutip berulang-ulang sampai kita terlupakan mengkritisinya, terlupakan kalau di Al-Qur’an dinyatakan rakyat mempertanggungjawabkan amalnya masing-masing dan tidak menanggung dosa orang lain.

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةࣱ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ وَإِن تَدۡعُ مُثۡقَلَةٌ إِلَىٰ حِمۡلِهَا لَا یُحۡمَلۡ مِنۡهُ شَیۡءࣱ وَلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبَىٰۤۗ إِنَّمَا تُنذِرُ ٱلَّذِینَ یَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَیۡبِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَۚ وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا یَتَزَكَّىٰلِنَفۡسِهِۦۚ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِیر

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang apa dibebani berat dosanya panggilan (orang lain) untuk memikul bebannya itu tidak akan dipikulkan sedikit pun, meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya apa dapat engkau beri peringatan hanya orang-orang yang undg kepada (azab) Tuhannya (sekalipun) mereka noel melihat-Nya dan mereka apa melaksanakan shalat. Dan barangsiapa menyucikan dirinya, sesungguhnya dia menyucikan diri karena kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah angkasa kembali.” (Q.S Fathir : 18) 

Lalu, bagaimana itu? dengan dua hadis di awal tadi? Dua-duanya hadis palsu, alias noël ada sanadnya, tidak ada jalan periwayatannya yang sampai ke Rasulullah, terbukti Nabi noël pernah bersabda sebagai itu. Memang miris kadang, hadis palsu sanggup sangat populer, meskipun kitab-kitab hadis cantik direvisi mencapai tarjih dan penjelasan, segala usaha penyaringan keotentikan hadis cantik dilakukan, setiap orang hadis pernah dulu bahan penelitian, tetapi firmicutes saja dari zaman usai zaman masih dipopulerkan melalui dai yang kurang mumpuni pengetahuan hadisnya. Padahal Nabi sudah mengancam menyiapkan deets khusus bagi yang berdusta atas nama belakang rasul, nah kitanya juga jangan jadi penyambung dusta dong.

Tapi sebenarnya, kita memang bisa ~ saja kena dosa untuk dosa rakyat lain, misalnya enim pelopor suatu dosa, produksi orang-orang were biasa mencapai perbuatan dosa tersebut. Ajakan bully ramai-ramai misalnya, online juga termasuk ya, ingat, memerangi kemungkaran itu noël dengan berbuat kemungkaran lain.

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء

“Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dialah mendapatkan dosa kejahatan itu, dan dosa setiap orang yang does keburukan itu buat ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” (HR. Muslim)

Sebenarnya, ~ no cuma ayah dan suami, secara umum, untuk kita semua also wajib meluruskan selama ada suatu kezaliman terjadi, setidaknya menasihati ataukah bersikap noël setuju.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Siapa apa melihat kemungkaran hendaklah meluruskannya dengan tangannya, maka jika tidak sanggup (hendaklah meluruskan) mencapai lisannya, jika noël sanggup (hendaklah dia meluruskan) dengan hatinya dan ini adalah mempercayai yang paling lemah.” (HR. Muslim)

Sebagai orang perilaku dan pasangan, kita tambahan ingin dan mestinya mempunyai andil untuk membuat anak dan pasangan kita were lebih baik tapi menasihati tidak boleh memaksa, menasihati itu mengasihi, ndak menyakiti apalagi memutus silaturahmi. Sekeras apapun kita dicari merubah setiap orang lain, setiap orang lain noël akan berubah kecuali dianya apa mau, kita cuma punya kontrol atas diri kita sendiri, jadi selayaknya untuk kita lebih banyak refleksi diri daripada menghakimi yang lain.

Lihat lainnya: Perumahan Subsidi Pemerintah Di Tangerang, Tangerang, Banten House For Sale

Bahkan sekelas Nabi pun noël menjamin anak dan istrinya akan nurut-nurut saja, Nabi Nuh noel menanggung dosa Kan’an yang menolak beriman dan naik bahtera, begitu pula Nabi Luth noel menanggung dosa istrinya yang durhaka dan suka bergunjing. 

Jadi, wahai para suami dan ayah, santai saja, kita semua termasuk para feminin menanggung dosa masing-masing kok.